Revisi Panduan Identifikasi Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia (Revision of High Conservation Value Guidance)

Konsep HCVF (High Conservation Value Forest) atau Hutan Bernilai Konservasi Tinggi muncul pada tahun 1999 sebagai ‘Prinsip ke 9’ dari standar pengelolaan hutan yang berkelanjutan yang dikembangkan oleh Majelis Pengurus Hutan (Forest Stewardship Council / FSC). Konsep HCVF1 yang didesain dengan tujuan untuk membantu para pengelola hutan dalam usaha-usaha peningkatan keberlanjutan sosial dan lingkungan hidup dalam kegiatan produksi kayu dengan menggunakan pendekatan dua tahap, yaitu: 1) mengidentifikasikan areal-areal di dalam atau di dekat suatu Unit Pengelolaan (UP) kayu yang mengandung nilai-nilai sosial, budaya dan/atau ekologis yang luar biasa penting, dan 2) menjalankan suatu sistem pengelolaan dan pemantauan untuk menjamin pemeliharaan dan/atau peningkatan nilai-nilai tersebut. Salah satu prinsip dasar dari konsep HCV adalah bahwa wilayah-wilayah dimana dijumpai atribut yang mempunyai nilai konservasi tinggi tidak selalu harus menjadi daerah di mana pembangunan tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, konsep HCV mensyaratkan agar pembangunan dilaksanakan dengan cara yang menjamin pemeliharaan dan/atau peningkatan HCV tersebut. Dalam hal ini, pendekatan HCV berupaya membantu masyarakat mencapai keseimbangan rasional antara keberlanjutan lingkungan hidup dengan pembangunan ekonomi jangka panjang. Meski konsep HCV pada awalnya didisain dan diaplikasikan untuk pengelolaan hutan produksi (‘areal HPH’ dalam instilah Bahasa Indonesia), dengan cepat konsep ini menjadi populer dan digunakan dalam berbagai konteks yang lain. Di sektor publik, HCV digunakan dalam perencanaan pada tingkat nasional dan propinsi, antara lain di negara-negara seperti Bolivia, Bulgaria dan Indonesia. Di sektor sumber daya terbaharui, HCV digunakan sebagai alat perencanaan untuk meminimalisasi dampak-dampak ekologi dan sosial yang negatif dalam pembangunan.

Di paruh akhir tahun 2006 banyak pihak pengguna konsep HCV Indonesia sepakat untuk merevisi dan melakukan pembaruan terhadap Toolkit tersebut untuk meningkatkan dayagunanya di Indonesia. Inisiasi untuk merevisi Toolkit tersebut kemudian diorganisir oleh sebuah konsorsium kemitraan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dibawah koordinasi Institut Sumberdaya Indonesia (IndRI) dan Daemeter Consulting dengan partisipasi dari The Nature Conservancy (TNC), Tropenbos International Indonesia (TBI-I), Worldwide Fund for Nature (WWF), Conservation International (CI), Fauna Flora International (FFI) dan Rainforest Alliance. Dukungan finansial selama proses revisi Toolkit berlangsung diperoleh dari berbagai pihak, terutama United States Agency for International Development (USAID), TNC, WWF dan anggota lain dari konsorsium kemitraan. Revisi Toolkit tersebut dimaksudkan untuk memberikan penjelasan yang lebih terstruktur, logis dan rinci mengenai konsep dan metodologi HCV, definisi dan istilah yang digunakan, tahap-tahap dalam proses identifikasi HCV, serta hak dan kewajiban para pihak yang terlibat, dengan memperhatikan hal-hal berikut:
• mengakomodasikan secara eksplisit konsep HCV / NKT dalam sektor-sektor yang berbeda (disamping pengelolaan hutan produksi) yang memungkinkan aplikasinya secara umum
• melakukan proses revisi dalam Bahasa Indonesia untuk menghindari kesalahpahaman dan ketidakjelasan serta mendorong keterlibatan yang lebih aktif dari para pihak yang relevan
• melakukan revisi secara transparan dan melibatkan para pemangku kepentingan seluas luasnya untuk mendapatkan dukungan, komitmen, dan pengakuan secara penuh dalam seluruh proses HCV mulai dari penilaian, sampai pengelolaan dan pemantauan

Lampiran Dokumen Revisi Panduan HCV :

  Panduan_HCV_Final_Cetak.pdf (1.0 MiB, 3,249 hits)

Berikut ini merupakan beberapa contoh proses penerapan HCVF :

1. HCVF di Ekoregion Borneo

  HCVF_Process-Ecoregion_Borneo.pdf (3.8 MiB, 23,865 hits)

2. HCVF di Ekoregion Trans Fly

  HCVF-Ecoregional_Case_in_trans_fly_result.pdf (2.5 MiB, 1,503 hits)

3. HCV di Giam Siak Kecil, Riau

  A_HCV_Forest_Analysis_of_the_Giam_Siak_Kecil_Landscape-Riau_Sumatra.pdf (2.6 MiB, 1,122 hits)

4. HCVF di Pulau Muda, Riau

  HCVF_Pulau_Muda_Riau.pdf (73.3 KiB, 991 hits)

5. HCV di PT. Belayan River Timber

  HCV_Public_Summary_PT.Belayan_River_Timber.pdf (158.0 KiB, 559 hits)

6. HCV di Kalimantan Timur

  Landscape_HCV_in_East_Kalimantan_TNC-Daemeter.pdf (2.9 MiB, 1,244 hits)

 

 

Dikontribusi oleh Barano Siswa Sulistyawan dan Puteri Tiara Maulida