Pemanfaatan UAV (Unmanned Aerial Vehicle)

© WWF Indonesia

Pesawat Nir-Awak atau Pesawat Terbang Tanpa Awak atau disingkat PTTA, atau dalam bahasa Inggris disebut UAV (Unmanned Aerial Vehicle) atau sering disebut juga sebagai Drone, adalah sebuah mesin terbang yang berfungsi dengan kendali jarak jauh oleh pilot atau mampu mengendalikan dirinya sendiri. Penggunaan terbesar dari pesawat tanpa awak ini adalah dibidang militer. Namun saat ini penggunaan drone sudah meluas untuk keperluan sipil (non militer) seperti pemetaan untuk berbagai bidang aplikasi, monitoring, inspection, banjir dan pemadam kebakaran.

Di Indonesia sendiri, drone sudah dimanfaatkan oleh beberapa lembaga pemerintah seperti BNPB untuk memantau kondisi gunung api (Gunung Kelud) untuk mitigasi bahaya gunung api. Drone bukan menjadi hal asing bagi ilmuwan Indonesia. Lembaga riset di Indonesia seperti LAPAN dan BPPT serta beberapa Universitas sudah mengembangkan drone dan sudah diuji cobakan serta layak terbang. Beberapa perusahaan aero modelling juga telah mengembangkan drone.

Global Forest and Trade Network (GFTN) WWF Indonesia pada tanggal 16 – 17 September 2014 mengadakan pelatihan mengenai sistem drone dengan mengundang Mata Angkasa sebagai narasumber. Mata Angkasa berdiri pada tahun 2004 dan bergerak pada bidang aeromodelling dan photography, dan saat ini juga mengembangkan UAV, aircame, blimp dan balloon.

Peserta kebanyakan adalah staf dibidang pemetaan. Hingga saat ini data satelit masih digunakan untuk kepentingan pemetaan baik land cover, sebaran spesies, dan lainnya. Teknologi satelit sendiri memiliki beberapa kekurangan yang salah satunya adalah terganggunya performa data dikarenakan awan. Biaya yang dikeluarkan untuk ground truthing juga cukup besar untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya di lapangan. Untuk itu dengan berkembangnya UAV dimana salah satu kelebihannya adalah dapat memotret area yang tidak terlalu luas tanpa gangguan awan dengan biaya yang tidak terlalu mahal serta dapat mengisi gap dari data satelit.

Drone sendiri harus dilengkapi oleh kamera yang memadai sesuai dengan informasi yang dibutuhkan. Contohnya untuk pengamatan spesies bisa disarankan untuk menggunakan Thermal Camera karena dapat membaca thermal dari spesies yang akan diamati dimana membedakan dari thermal tumbuhan di dalam hutan.

Ada dua variasi kontrol pesawat tanpa awak, variasi pertama yaitu dikontrol melalui pengendali jarak jauh, dan variasi kedua adalah pesawat terbang mandiri (autopilot) berdasarkan program yang dimasukkan ke dalam pesawat sebelum terbang. Dalam hal ini Mata Angkasa memperkenalkan tool untuk mengontrol pesawat tanpa awak yang dinamakan Mission Planner.

Setelah pesawat melaksanakan misinya, tahapan selanjutnya adalah pengolahan data (processing) yang di-unduh dari payload kamera. Hasil pengolahan ini yang biasa kita sebut Peta Orthophoto, yaitu gabungan mosaic dari sejumlah foto udara (ratusan bahkan ribuan foto udara) lalu dilanjutkan dengan proses pengolahan fotogrametri.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai UAV, silahkan download materi berikut :

  Pengenalan Pesawat Terbang (907.9 KiB, 8,539 hits)

  Why Choose UAV - Mata Angkasa (7.0 MiB, 551 hits)

  Using a Ground Station (1.4 MiB, 1,458 hits)

Sumber Materi :GFTN WWF Indonesia