Kawasan Strategis Nasional (KSN) HoB

© WWF-Indonesia

Sejak ditetapkan RTRWN melalui pp no .26 tahun 2008, kawasan HoB di wilayah Indonesia telah ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Strategis Nasional (KSN) dengan nama  KSN kawasan perbatasan dan Jantung Kalimantan (HoB). Pertimbangan penting kawasan tersebut di tetapkan sebagai KSN karena terletak di kawasan perbatasan dan juga memiliki nilai penting secara social budaya bagi masyarakat asli suku Dayak dan secara ekologis sebagai habitat bagi berbagai jenis satwa dan perwakilan keragaman tipe vegetasi hutan hujan tropis Kalimantan. Disamping itu secara hidrologis kawasan HOB merupakan hulu dari sungai utama di pulau Kalimantan seperti sungai Kapuas, Sungai Mahakam, Sungai Barito, dan sungai besar lainnya.

Sesuai dengan semangat deklarasi oleh tiga Negara antara Indonesia, Malaysia dan Brunei telah menyebutkan bahwa kawasan HoB sebagai kawasan yang dikelola dengan prinsip konservasi dan pembangunan berkelanjutan. Untuk itu diperlukan suatu penataan ruang yang baik untuk memastikan pola pembangunan di kawasan tersebut sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.

Salah satu tahapan penting untuk mewujudkan visi dan misi tersebut, dalam RTR Pulau Kalimantan telah menyebutkan bahwa kawasan HOB sebagai bagian dari target perlindungan 45% hutan hujan tropis Kalimantan yang berfungsi sebagai paru-paru dunia. Arah kebijakan ini mempertegas bagaimana menempatkan kawasan HOB sebagai supporting system dalam mendukung pengembangan kawasan secara regional di Kalimantan.

Salah satu turunan peraturan perundangan yang terkait penataan ruang yang memandatkan bahwa KSN harus dapat dirumuskan sebagai rencana rinci nasional yang ditetapkan melalui peraturan presiden. Untuk melaksanakan mandat UU tersebut, maka Direktorat Tata Ruang Wilayah Nasional (TARUNAS), Dirjend Penataan Ruang, Kementerian PU,  sedang menyusun rancangan  peraturan presiden yang terkait dengan KSN HOB dengan koordinasi melalui Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN). Ini merupakan moment penting bagi para pihak untuk dapat memberikan masukkan dan memperkaya muatan KSN HoB.

Salah satu aspek penting sebagai indikator keberhasilan dalam penerapan KSN HOB adalah bagaimana perubahan gambaran penutup hutan di kawasan tersebut. Apakah regulasi yang disusun dapat memastikan implementasi dilapangan untuk menekan laju konversi lahan. Sebagai gambaran kondisi ronal awal, kami menyajikan informasi tutupan dengan perbandingan Pola Ruang dengan Tutupan Hutan menggunakan data Landsat (sumber dari Kementerian Kehutanan) dan data MODIS (sumber dari WWF dan Sarvision), sebagai berikut :