Identifikasi Potensi Jasa Ekosistem di 3 Kabupaten dalam Koridor Rimba

Bendungan Batanghari di Dharmasraya – © WWF-Indonesia/Oki Hadian

Sebagai kelanjutan dari kegiatan pemetaan tutupan lahan di 3 kabupaten perbatasan antara Provinsi Riau, Sumatera Barat, dan Jambi yang pada 12 – 23 Februari lalu sudah mensurvey kabupaten Kuantan Singingi untuk groundtruthing, pada 4 – 20 Juni dilakukan kegiatan lanjutan berupa groundtruthing yang berlokasi di kapbupaten Dharmasraya dan kabupaten Tebo.

Selain groundtruthing ini, tim yang terdiri dari WWF Indonesia dan Konsultan dari Universitas Muhammadiyah Riau juga melakukan presentasi bagaimana mengindentifikasi potensi jasa lingkungan di lingkungan kabupaten Kuantan Singingi, kabupaten Dharmasraya, dan kabupaten Tebo sebagai usulan alternatif pengembangan kegiatan ekonomi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Suasan FGD di Kabupaten Dharmasraya – © WWF-Indonesia/Oki Hadian

Kegiatan ini sejalan dengan 5 program utama di Kawasan Ekosistem Terpadu Rimba yaitu program yang berkaitan dengan jasa lingkungan antara lain, karbon dan pembayaran jasa air. Dalam pelaksanaannya, tim didukung oleh perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Bappenas sebagai bentuk dukungan dari kegiatan di Rimba ini.

Suasana komunikasi dengan masyarakat pengumpul karet – © WWF-Indonesia/Oki Hadian

Dimulai dari Kabupaten Dharmasraya, tim diterima oleh Bappeda kabupaten Dharmasraya dan perwakilan dari sektor lain seperti Dinas Kehutan dan Perkebunan, ESDM, PU, Pariwisata, dan BLHD. Diskusi yang dibangun banyak memunculkan informasi-informasi berguna seputar potensi jasa ekosistem apa saya yang potensial bisa dibangun, beberapa informasi yang muncul antara lain : budidaya jerenang, jasa air, pariwisata, optimalisasi hasil karet, hingga potensi pohon jabon. 

Hasil panen karet – © WWF-Indonesia/Oki Hadian

Disamping itu teridentifikasi juga informasi-informasi yang kurang selaras dengan upaya-upaya konservasi lingkungan seperti banyak penambangan emas ilegal (PETI) di sungai Batanghari yang mana pelakuknya bukan hanya berlokasi di Dharmasraya saja namun sejak dari bagian hulu sungai ini.Menyusul setelah dilakukannya FGD yaitu kegiatan groundtruthing dan survey potensi jasa lingkungan. Selama kegiatan ini, tim didampingi oleh perwakilan dari pemda yaitu dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan dan BLHD, bahkan dalam satu hari field work tim didampingi langsung oleh Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan langsung.

Suasana FGD di Kabupaten Tebo – © WWF-Indonesia/Oki Hadian

Kabupaten selanjutnya yang dikunjungi adalah kabupaten Tebo di provinsi Jambi. Ini adalah kunjungan pertama tim ke kabupaten Tebo sehingga di kabupaten ini tim tidak hanya melakukan presentasi tentang identifikasi jasa lingkungan tapi juga presentasi tentang Rimba. Di kabupaten ini tim didampingi oleh perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Bappenas, serta beberapa expert dari WWF Indonesia. Sementara dari pihak kabupaten Tebo, dihadiri oleh Bappeda sebagai tuan rumah, Dinas Kehutananan, Perkebunan, PU, Tata Kota, dan Dinas Lingkungan Hidup.Dari diskusi yang terbangun, permasalahan utama di daerah ini adalah cepatnya konversi lahan menjadi perkebunan. Dengan kondisi kabupaten Tebo yang banyak didominasi oleh perkebunan terutama perkebunan karet, pihak pemerintah mengusulkan untuk optimalisasi hasil karet untuk efisiensi dan peningkatan kesejahteraan petani.

Perkebunan Sawit di Kabupaten Tebo – © WWF-Indonesia/Oki Hadian

Kegiatan selanjutnya setelah FGD adalah field work untuk identifikasi potensi jasa lingkungan dan groundtruthing untuk pemetaan tutupan lahan, yang memakan waktu selama 4 hari. Seperti di kabupaten Dharmasarya, selama proses fieldwork berlangsung, tim didampingi oleh perwakilan pemda dari Dinas Kehutanan dan PU.

 

Suasana FGD di Kabupaten Kuantan Singingi – © WWF-Indonesia/Oki Hadian

Kabupaten terakhir yang dikunjungi adalah kabupaten Kuantan Singingi. Kunjungan kali ini hanya untuk melaksanakan kegiatan FGD identifikasi potensi jasa lingkungan karena kegiatan groundtruthing di kabupaten sudah dilakukan pada bulan Februari lalu. Sama seperti di Tebo, tim didampingi oleh perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Bappenas. Dari kabupaten Kuansing selain Bappeda sebagai tuan rumah juga dihadiri oleh Dinas ESDM, PU, Kehutanan, Pertanian, Cipta Karya, dan Pariwisata.

Beberapa informasi yang teridentifikasi antara lain potensi jasa air dari sektor pariwisata karena di Kuantan Singingi inilah pusat kegiatan Pacu Jalur yang berlokasi di Sungai Taluk yang mana saat ini sungai tersebut mengalami pencemaran dan sedimentasi yang tinggi akibat dari PETI.

Tahapan selanjutnya dari rangkaian kegiatan ini adalah analisa potensi jasa lingkungan yang tepat untuk dikembangkan di 3 kabupaten ini dan finalisasi peta tutupan lahan skala detil. Rencananya untuk sosialisasi kedua produk ini akan disampaikan dalam satu kegiatan workshop.

Rute Field Work – © WWF-Indonesia/Oki Hadian