Kegiatan Pengukuran Stock Carbon di Kabupaten Merauke tahun 2011

Deforestasi dan Degradasi hutan di Indonesia telah mengakibatkan besarnya sumbangan emisi pada dunia, oleh karena itu pendekatan mitigasi dengan mengamankan hutan yang ada adalah melalui REDD (Reduction of Emission from Deforestation and Degradation), yaitu penyelamatan hutan tersisa untuk mengurangi tingkat emisi Indonesia. REDD bertujuan untuk menyelamatkan hutan yang ada atau tersisa dengan mencegahnya dari kerusakan dan kehilangan.

Menyadari akan permasalahan tersebut WWF-Indonesia sebagai lembaga nirlaba bersama IPB dan ICRAF yang berbasis konservasi ekosistem memiliki tanggung jawab moral dalam mengurangi dampak akibat kerusakan lingkungan global termasuk mitigasi dalam mengurangi penyebab perubahan iklim. Continue reading

Revisi Panduan Identifikasi Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi di Indonesia (Revision of High Conservation Value Guidance)

Konsep HCVF (High Conservation Value Forest) atau Hutan Bernilai Konservasi Tinggi muncul pada tahun 1999 sebagai ‘Prinsip ke 9’ dari standar pengelolaan hutan yang berkelanjutan yang dikembangkan oleh Majelis Pengurus Hutan (Forest Stewardship Council / FSC). Konsep HCVF1 yang didesain dengan tujuan untuk membantu para pengelola hutan dalam usaha-usaha peningkatan keberlanjutan sosial dan lingkungan hidup dalam kegiatan produksi kayu dengan menggunakan pendekatan dua tahap, yaitu: 1) mengidentifikasikan areal-areal di dalam atau di dekat suatu Unit Pengelolaan (UP) kayu yang mengandung nilai-nilai sosial, budaya dan/atau ekologis yang luar biasa penting, dan 2) menjalankan suatu sistem pengelolaan dan pemantauan untuk menjamin pemeliharaan dan/atau peningkatan nilai-nilai tersebut. Continue reading

Visi Hijau Untuk Sumatera-Aplikasi alat pemodelan InVEST (Integrated Valuation of Ecosystem Services and Tradeoffs)

Di Indonesia, rencana tata ruang kabupaten dan provinsi menentukan tempat penebangan kayu, perluasan perkebunan, pembangunan
infrastruktur dan konservasi harus dilakukan. Pada tahun 2010, sepuluh gubernur dari Sumatera membuat sebuah komitmen seluruh pulau untuk melakukan perencanaan tata ruang berbasis ekosistem, yang mendukung pembangunan berkelanjutan dan konservasi. Enam lembaga pemerintah pusat dan sebuah forum lembaga swadaya masyarakat termasuk WWF mengembangkan visi ekosistem bagi Sumatera sebagai alternatif terhadap rencana tata ruang pemerintah yang ada.
Laporan ini menunjukkan bagaimana analisis spasial dan ekonomi jasa ekosistem dan habitat satwa liar dapat mendukung proses
perencanaan tata ruang di Sumatera bagian tengah. Dengan mengkaji manfaat dari alam tempat masyarakat Sumatera mengelola dan bergantung, kita dapat mengidentifikasi seluruh biaya dan manfaat dari rute pembangunan masa depan alternatif. Continue reading

Lokakarya Optimalisasi Pemanfaatan Sistem Informasi Geografi Dalam Perencanaan Ruang Konservasi

(Bogor/3-5 Juli 2012/Workshop CSP-WG_WWF-Indonesia/Puteri Tiara Maulida)

© WWF-Indonesia

Kegiatan Lokakarya Optimalisasi Pemanfaatan Sistem Informasi Geografi Dalam Perencanaan Ruang Konservasi, kemudian bisa disebut pula dengan Workshop CSP-WG_WWF-Indonesia.

Latar Belakang Kegiatan

Sejak pertengahan tahun 90an, WWF-Indonesia telah menggunakan Sistem Informasi Geografis untuk mendukung kerja-kerja konservasi khususnya yang terkait dengan tata ruang. Pemanfaatan terhadap teknologi ini terus ditingkatkan hal ini seiring dengan penerapan strategi Sustainable Landuse pada Rencana Strategis 2009 – 2013.

Hingga saat ini hampir setiap kantor WWF-Indonesia memiliki officer yang bekerja secara khusus untuk menangani Sistem Informasi Geografis. Investasi telah ditanamkan begitu besar baik berupa pembelian data, perangkat keras hingga perangkat lunak. Namun demikian keamanan data dan informasi geospasial masih terasa lemah dan akses terhadap pemanfaatan sumber daya ini masih belum maksimal dalam konteks perencanaan dan pemantauan kegiatan yang lebih luas.

Continue reading